Beragama di Tempat Umum

148

Oleh : Sri Guno Najib Chaqoqo

Menyerobot dan menempati yang bukan tempatnya adalah pemandangan biasa di jalan raya. Membahayakan diri sendiri dan orang lain sangat sering kita lihat. Anak-anak remaja melakukan aksi vandalism dengan mencorat-coret property umum yang bukan milik mereka sangat mudah di temui; tembok sekolah, jembatan, pintu-pintu toko. Tidak mau mengalah dan ingin menang sendiri; merasa paling berhak lewat duluan, tergesa-gesa, jika diingatkan malah membentak.

Itu adalah pemandangan biasa di negeri kita. Bukan untuk menjadi orang yang suka menjelekkan negeri sendiri, tetapi hanya mencoba mengakrabi realitas yang dihadapi sehari-hari.

Keberadaan kitab suci seakan sering dianggap terlalu suci untuk diterapkan di jalan raya, trotoar, atau di pasar-pasar. Para penjual bersolek tampil jelita menarik para pembeli dengan rayuan maut dan menantang. Dan tentu saja, jangan bawa-bawa kitab suci di tempat seperti itu.

Tidak usah disuarakan merdunya ayat-ayat Tuhan apalagi dilantunkan dengan penuh hikmat. Orang-orang itu hanya mau mendengar merdunya ayat suci hanya di tempat suci semacam masjid atau makam-makam. Itu saja hanya pada saat menjelang dikumandangkan adzan.

Orang berhijab semakin banyak. Pria berkopiyah haji, berjenggot, bersarung, membawa tasbih, tempat ziarah juga makin ramai, lelaki memakai celana di atas mata kaki, jidat menghitam, dan aplikasi religi terpasang di gadget, sangat mudah ditemui di tempat umum. Tidak akan ditemukan lagi masjid tua, kusam, jelek, dan bau.

Hingga toilet dan kamar mandi masjid dibuat bersih dan wangi; agar jamaah kerasan di masjid. Rak al Quran tidak ketinggalan menghiasi muka shaf terdepan dengan deretan mushaf cetakan terbaru. Sudah jarang masjid ada puji-pujian, yang ada orang membaca al Quran-lebih syar’i katanya.

Sangat meyakinkan bahwa slogan kembali ke Al Qur’an dan Al Sunnah sudah begitu merasuk ke jiwa pemeluk agama ini. Paling tidak indikator di atas bisa menjadi ukuran. Harapannya, lewat slogan tersebut, semua aspek kehidupan bisa dirujuk kepada keduanya. Orang berlalu lintas di jalan raya akan menemukan dalil agar bagaimana bisa berlaku sopan di jalan. Tidak suka menyerobot dan merampas hak orag lain. Ketika di traffic light juga patuh. Berkendara di jalan raya akan taat rambu-rambu.

Guru-guru agama di sekolah yang kembali kepada al Qur’an dan Hadits juga makin banyak. Mereka akan mengajarkan bagaimana bersikap sopan terhadap orang lain, tidak hanya kepada orang tua. Kalau anak sekolah naik motor juga akan diberi dalil ayat suci al Qur’an dan hadits tentang larangan kebut-kebutan, mencorat-coret tembok, motor tidak berisik.

Harapannya, jika dalil tentang ketertiban di tempat umum itu tidak ditemukan secara eksplisit, mereka memperluas jangkauan kembali kepada al Qur’an dan Hadits kepada bagaimana metode ahli-ahli agama megambil hukum, yang bisa jadi dari mereka justru dianggap tidak “kembali kepada al Qur’an dan Hadits”, karena justru hukum-hukum adat yang tidak diatur secara eksplisit itu akan ditemukan dalam kearifan dalam memaknai al Qur’an dan hadits berbekal ilmu yang mendalam.

Dan mereka tidak serta-merta “kembali kepada al Qur’an dan Hadits”. Mana ada hadits mengatur cara megendarai motor dan mobil dengan baik. Mana ada al Qur’an dan hadits mengatur penggunaan gadget degan baik. Jangan meyebar hoax, fitnah, dan hasutan. Al Qur’an hanya memerintahkan: kerjakanlah yang baik, jauhi yang tidak baik. Di luar soal ibadah murni, baik dan tidak baik adalah persoalan yang harus dipecahkan dengan kearifan-kearifan berdasarkan ilmu yang mendukung untuk memahami al Qur’an dan hadits.

Harapan akhirnya adalah bagaimana beragama di tempat umum dipraktikkan. Jika beragama di masjid atau majelis taklim, atau berbakti kepada orang tua, itu jelas apa yang dilakukan. Tetapi bagaimana bermasyarakat yang baik, tidak cukup hanya menampakkan kekhusyukan ketika sholat berjamaah di masjid. Wallahu a’lam.

Tinggalkan Balasan