Aswaja dalam Perspektif Aqidah Madzhab Al-Asyariyyah

56
aswaja:aqidah
aswaja:aqidah

Penulis : Ari Siswanto alias Muhammad Arif Siswanto

Sejarah Singkat

Madzhab al-Asy’ariyyah adalah madzhab teologis yang dinisbatkan terhadap pendirinya, al-Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari, madzhab ini diikuti oleh mayoritas kaum Muslimin Ahlussunnah Wal Jama’ah dari dulu hingga kini.

Al-Imam Abu al-Hasan Ali bin Isma’il bin Abi Biysri Ishaq bin Salim bin Isma’il bin Abdullah bin Musa bin Bilal bin Abi Burdah Amir bin Abu Musa Abdullah bin Qais al-Asy’ari, lahir di kota Bashrah pada tahun 260 H/873 M. Dia lahir dan tumbuh dalam lingkungan keluarga yang mengikuti faham Ahlussunnah Wal Jama’ah. Ayahnya, Isma’il adalah seorang ahli hadits yang menganut faham Ahlussunnah Wal Jama’ah. Hal ini terbukti, ketika Isma’il menjelang wafat, dia berwasiat agar al-Asy’ari diasuh oleh al-Imam al-Hafidz Zakariya al-Saji, pakar hadits dan fiqih madzhab al-Syafi’i yang sangat populer di kota Bashrah.

Saat dia berusia sepuluh tahun, ibu kandung al-Asy’ari menikah dengan Abu Ali al-Jubba’i, tokoh Muktazillah terkemuka di kota Bashrah. Pernikahan tersebut sangat berpengaruh dan bahkan mengubah jalan hidupnya, al-Jubba’i mengarahkan al-Asy’ari menjadi penganut Muktazillah hingga berusia 40 tahun.

Setelah mengikuti ideologi Muktazillah selama kurang lebih 30 tahun, al-Asy’ari kembali kepada ideologi Ahlussunnah Wal Jama’ah. Menurut data sejarah yang disampaikan oleh para ulama, seperti al-Hafidz Ibn ‘Asakir al-Dimasyqi, Syamsuddin Ibn Khallikan, al-Imam Tajuddin al-Subki dan lain-lain, setidaknya ada dua hal yang melatarbelakangi perpindahan al-Asy’ari dari Muktazillah ke Ahlussunnah Wal Jama’ah.

Pertama, ketidakpuasan terhadap Ideologi Muktazillah yang lebih mendahulukan akal tetapi tidak jarang menemukan jalan buntu dan mudah dipatahkan dengan argumentasi akal yang sama.

Ketidakpuasan al-Asy’ari dengan faham Mu’tazilah tersebut dapat pula dilihat dengan memperhatikan riwayat lain yang mengisahkan perdebatannya dengan Abu Ali al-Jubba’i, seorang ulama sepuh yang ayah tiri dan gurunya. Suatu ketika al-Asy’ari berdialog dengan al-Jubba’i sebagai berikut :

Al-Asy’ari : Bagaimana pendapatmu tentang nasib tiga orang yang meninggal dunia, satunya orang mukmin, satunya orang kafir dan yang satunya lagi anak kecil?

Al-Jubba’i : Orang mukmin akan memperoleh derajat yang tinggi, orang kafir akan celaka dan anak kecil akan selamat.

Al-Asy’ari : Mungkinkah anak kecil tersebut meminta derajat yang tinggi kepada Allah?

Al-Jubba’i : Oh, tidak mungkin. Karena Allah akan berkata kepada anak itu, “orang mukmin itu memperoleh derajat yang tinggi karena amalnya, sedangkan kamu belum sempat beramal. Jadi kamu tidak bisa memperoleh derajat itu.”

Al-Asy’ari : Bagaimana kalau anak kecil itu menggugat kepada Allah dengan berkata, “Tuhan, demikian itu bukan salahku. Andaikan Engkau memberiku umur panjang, tentu aku akan beramal seperti orang mukmin itu.”

Al-Jubba’i : Oh, tidak bisa. Allah akan menjawab, “Oh, bukan begitu, justru Aku telah mengetahui, bahwa apabila kamu diberikan umur panjang, maka kamu akan durhaka, sehingga nantinya kamu akan disiksa. Oleh karena itu, demi menjaga masa depanmu, aku matikan kamu sewaktu masih kecil, sebelum kamu menginjak usia taklif.”

Al-Asy’ari : Bagaimana seandainya orang kafir itu menggugat kepada Allah dengan berkata, “Tuhan, Engkau telah mengetahui masa depan anak kecil itu dan juga masa depanku. Tetapi mengapa Engkau tidak memperhatikan masa depanku, dengan mematikan aku sewaktu masih kecil dulu, sehingga aku tergolong orang yang selamat seperti anak kecil itu, dan mengapa Engkau biarkan aku hidup hingga dewasa sehingga aku menjadi orang kafir dan akhirnya aku disiksa seperti sekarang ini?”

Mendengar pertanyaan al-Asy’ari ini, al-Jubba’i menghadapi jalan buntu dan tidak mampu memberikan jawaban. Al-Jubba’i hanya berkata: “Kamu hanya bermaksud merusak keyakinan yang telah ada.”

Al-Asy’ari : Aku tidak bermaksud merusak keyakinan yang selama ini Anda yakini. Akan tetapi, Guru tidak mampu menjawab pertanyaanku.

Kedua, bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Mimpi tersebut terjadi berkali-kali, yang pada intinya dalam mimpi tersebut Nabi Muhammad memerintahkan kepada al-Asy’ari untuk menyelamatkan pendapat yang diriwayatkan darinya, karena pendapat itulah yang benar.

Tokoh-tokoh Penerus Madzhab al-Asy’ari

Tokoh-tokoh madzhab al-Asy’ari secara umum dibagi menjadi dua:

Mutaqoddimin, yaitu para ulama yang hidup pada masa sebelum al-Imam Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali. Diantaranya adalah:

  • Al-Qodli Abu Bakar al-Baqillani (338-403 H/950-1013 M), pengarang kitab Daqaiq al-Kalam, al-Milal wa al-Nihal, al-Tamhid fi al-Radd `ala al-Mulhidah wa al-Mu`aththilah wa al-Khawarij wa al-Mu`tazilah dan lain-lain.
  • Al-Imam Ruknuddin Abu al-Ma`ali Abdul Malik bin Abdullah bin Yusuf bin Muhammad al-Juwaini, dikenali dengan gelaran al-Imam Haramain (419-478 H/1028-1085 M), pengarang kitab al-Irsyad ila Qawathi` al-Adillah fi Usul al-I`tiqad, al-Syamil fi Usul al-Din, Luma’ al-Adillah, al-`Aqidah al-Nizhamiyyah yang terkenal dengan nama al-Nizhami.

Mutaakhirin, yaitu para ulama yang hidup pada masa al-Imam Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali dan Ulama-ulama setelahnya. Diantaranya:

  • Al-Imam Zainuddin Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali al-Thusi, dikenali dengan gelaran Hujjatul Islam (450-504 H/1058-1111 M), pengarang kitab al-Iqtisad fi al-I`tiqad, Ijam al-`Awam `an `Ilm al-Kalam, Faisal al-Tafriqah vaina al-Islam wa al-Zandaqah, al-Qisthas al-Mustaqim, Qawaid al-`Aqaid dan lain-lain. Beliau adalah ulama pelopor yang memasukan ilmu mantiq ke dalam ushul fiqh dan ilmu kalam
  • Al-Imam Fakr al-Din Abu Abdillah Muhammad bin Umar bin al-Husain bin al-Hasan bin Ali al-Taimi al-Bakri al-Razi (544-606 H/1150-1210 M), pengarang kitab al-Mathalib al-`Aliyah, Nihayat al-`Uqul, al-Arba`in, al-Muhassal, al-Bayan wa al-Burhan fi al-Radd `ala Ahl al-Zaigh wa al-Thughyan, al-Mahabith al-`Imadiyah, Tahzib al-Dalail, `Uyun al-Masail, Irsyad al-Nuzhzhar ila Lathaif al-Asrar dan lain-lain.
  • Sa’ad al-Din Masud ibn Umar ibn Abd Allah al-Taftazani (722-792 H/1322–1390 M), Pengarang kitab Syarhul ‘Aqoid
  • Al-Imam Abu Abdillah Muhammad bin Yusuf bin Umar bin Syu`aib al-Sanusi al-Tilimsani al-Hasani al-Maliki (832-895 H/1428-1490 M), pengarang kitab Aqidah Ahl al-Tauhid, al-`Aqidah al-Kubra, Umm al-Barahin dan lain-lain.
  • Sheikhul Islam Mustafa Sabri Efendi (1869 – 1954), pengarang kitab Mauqif al-Aql wa al-Ilm wa al-Aalam min Rabb al-Alamin wa Ibadihi al-Mursalin.

Sumber Bacaan:

Dr. Muhammad Yunus Masrukhin, Kuliah Aswaja: Aqidah, Universitas Nahdlatul Ulama Yogyakarta, Pada Hari Jum’at, 29 September 2017. Pukul 19.30 – 21.30.

Muhammad Idrus Ramli . 2009. Madzhab Al-Asy’ari, Benarkah Ahlussunnah Wal Jama’ah?, Jawaban Terhadap Aliran Salafi. Surabaya: Khalista.

Ibnu Alwi al-Syafi'i. 2010. “Kenali Ulama'-Ulama' Yang Mengikut Manhaj Akidah Al-Imam Abu Al-Hassan Al-AsyAri”, http://bahrulkalam.blogspot.co.id/2010/08/kenali-ulama-ulama-yang-mengikut-manhaj.html, diakses pada 5 Oktober 2017 pukul 19.40

Rizhan el-Rodhi . 2011. “Sheikhul Islam Mustafa Sabri Efendi (1869 – 1954)”, http://hanputra.blogspot.co.id/2011/02/sheikhul-islam-mustafa-sabri-efendi.html, diakses pada 5 Oktober 2017 pukul 19.43

Wikipedia. “Taftazani”, https://en.wikipedia.org/wiki/Taftazani, diakses pada 5 Oktober 2017 pukul 19.45

Wikipedia. “سعد الدين التفتازاني”, https://ar.wikipedia.org/wiki/سعدالدينالتفتازاني, diakses pada 5 Oktober 2017 pukul 19.47

 

Tinggalkan Balasan