Berkatalah Dengan Ilmu, Jangan Dengan Nafsu

137

Penulis : Ade Supriyadi, S.Th.I, S.Si, MA

Pada masa sekarang ini banyak sekali dijumpai orang-orang yang belum mumpuni keilmuannya tapi sudah berani menyempaikan pendapat terkait dengan persoalan keagamaan. Saat orang menyampaikan kandungan suatu ayat Al-Qur’an maka tidak cukup hanya dengan membaca terjemahannya saja, tapi harus didukung juga dengan penjelasan Tafsirnya dari berbagai kitab tafsir yang terpercaya, karena menjelaskan Al-Qur’an hanya dengan bermodal terjemah saja akan menghasilkan penjelasan yang tidak sempurna bahkan bisa jadi keliru. Disamping itu juga, ada seperangkat keilmuan yag harus dipahami saat hendak memahami ayat Al-Qur’an, kita harus paham ilmu Tafsir, ilmu Bahasa Arab, ilmu Ushul fiqh, ilmu aqidah, tarikh dan keilmuan lainnya. Pengetahuan akan asbabun nuzul (sebab turunnya ayat) dan munasabah (keterkaitan ayat satu dengan yang lainnya) juga harus dimiliki agar kita dapat membaca konteks dan situasi saat ayat itu diturunkan serta dapat memahami ayat tersebut secara baik dengan melihat hubungannya dengan ayat lain yang berkaitan.

Menyampaikan ajaran Islam walau satu ayat kepada orang lain itu memang bagus, akan tetapi hal ini menjadi tidak bagus ketika ayat yang disampaikan tersebut tidak didasari oleh ilmu yang kuat. Lebih parah lagi jika yang mendengarkan penjelasan tersebut adalah orang yang awam, sehingga akan bisa menimbulkan pemahaman yang salah. Hal semacam ini sebenarnya sudah diperingatkan oleh Nabi melalui hadis berikut ini:

حدثني مالك عن هشام بن عروة عن أبيه عن عبد الله بن عمرو بن العاص قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول إن الله لا يقبض العلم انتزاعا ينتزعه من العباد ولكن يقبض العلم بقبض العلماء حتى إذا لم يبق عالما اتخذ الناس رءوسا جهالا فسئلوا فأفتوا بغير علم فضلوا وأضلوا ( رواه البخاري في صحيحه )

Imam Al- Bukhari berkata : ” Malik telah menceritakan hadis kepadaku dari Hisyam bin Urwah dari bapaknya dari Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash yang berkata : Saya mendengar Rasulullah saw bersabda bahwa sesungguhnya Allah swt benar-benar tidak akan (langsung) mencabut ilmu dari (dada) hamba-hambanya, akan tetapi justru Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan para ‘Ulama hingga tidak tersisa orang alim. Orang-orang saat itu menjadikan orang-orang bodoh sebagai panutan mereka kemudian mereka bertanya kepada orang-orang bodoh maka orang-orang bodoh tersebut memberikan fatwa tanpa ilmu hingga membuat mereka menjadi sesat dan menyesatkan. ( Hadis riwayat Imam al-Bukhori dalam Shahih al Bukhori)

Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqolani ketika menjelaskan hadis ini dalam kitab Fathul Baary mengatakan bahwa Rasulullah mensabdakan hadis di atas pada saat haji Wada’, saat ketika tidak lama lagi Nabi akan menghadap Allah. Jika kita telusuri pesan-pesan Nabi pada saat haji wada’ maka akan ditemukan pesan-pesan beliau yang luar biasa. Beliau memberikan peringatan pada umatnya bahwa sepeninggal beliau akan banyak terjadi perselisihan dan pertikaian antar sesama umat Islam. Oleh karena itu Nabi berpesan agar umat Islam berpegang kepada Sunnah beliau dan Sunnah para Khulafaur Rasyidiin. Nabi juga berpesan agar kita saling menghormati antar sesama, tidak saling mencela, tidak membunuh dan tidak mendzalimi orang lain.

Termasuk pesan beliau melalui hadis di atas yang memberikan peringatan kepada kita agar jangan menjadikan orang-orang bodoh sebagai panutan kita dalam beragama karena hal tersebut dapat menimbulkan bahaya yang besar. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani lebih lanjut menjelaskan bahwa hadis ini mengandung makna dorongan agar kita menjaga ilmu. Menjaga ilmu bisa dilakukan dengan cara mempelajari ilmu tersebut dengan sungguh-sungguh dari guru-guru yang terpercaya sanad ( jalur ) keilmuannya atau bisa juga dilakukan dengan menyebarkan ilmu tersebut kepada orang lain sesuai dengan dalil-dalil yang kuat dan shahih. Disamping itu hadis ini juga melarang kepada orang-orang yang tidak berilmu agar tidak memberikan fatwa atau ajaran keagamaan kepada orang lain karena hal tersebut dapat menyebabkan dia tersesat dan menyesatkan.

Meskipun demikian pengetahuan ilmu yang masih sedikit bukan berarti menghalangi seseorang untuk menyampaikan ilmu yang dia ketahui. Jika penyampaian ilmu tersebut tidak membahayakan maka sampaikanlah sesuai yang dia ketahui, jangan menyampaikan yang tidak dia kuasai. Misal jika ilmu seseorang baru sebatas tahu hukum fardlunya sholat maka dia harus menyampaikannya pada orang yang tidak shalat bahwa shalat itu hukumnya wajib bagi setiap muslim, karena fardlunya shalat itu merupakan sesuatu yang pasti. Berbeda jika dia tidak tahu tentang batalnya shalat, maka dia jangan sampai memaksakan diri untuk menyampaikan ilmu yang tidak dia kuasai.

Maka dari itu kita harus senantiasa belajar dari guru-guru yang jelas keilmuannya agar ketika belajar kita dapat dibimbing oleh guru kita. Berbeda jika seseorang belajar Islam hanya dengan membaca buku secara otodidak, maka jika terjadi ketidak pahaman atau kesalahan tidak akan ada yang menegur dan menuntun dirinya. Begitu juga jika seseorang belajar hanya melalui internet maka jelas ini akan kesulitan baginya untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah, karena di internet itu tidak semuanya baik.

 

Tunis, 8 Maret 2017

Tinggalkan Balasan