Grebeg Santri; Wadah Santri Milenial Berkreasi

74

 

Jika ada sebuah definisi bahwa santri adalah orang orang yang (hanya) mengabdikan diri untuk mengaji, barangkali di era milenial seperti ini, definisi tersebut sama sekali tak relevan lagi. Terbukti dari kirab Grebeg Santri yang telah dilangsungkan di sepanjang jalan malioboro, minggu 7 oktober lalu. Berbagai kreativitas para santri dipamerkan kepada masyarakat. Bermacam-macam karya atas ide ide brilian santri dipertontonkan dalam keramaian yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat.

Sebagaimana tema besar yang diangkat dalam acara Grebeg Santri ini, yakni Merawat Tradisi Menjaga Indonesia, para peserta kirab dibagi dalam 4 kategori berdasarkan periode kurun waktu perjalanan perjuangan santri. Periode pertama adalah  periode kontribusi santri dalam masa perjuangan   pangeran Diponegoro dalam melawan penjajah, yang mana untuk pesantren yang mendapatkan tema periode ini diwajibkan menggunakan jubah atau surban lengkap dengan keris dan kuda sebagai simbol.

Kedua, periode peran santri dalam perjuangan K.H. Hasyim Asy’ari yang melahirkan Resolusi Jihad sebagai acuan dipilihnya 22 oktober sebagai hari santri nasional. Sebagai simbolnya, santri diwajibkan untuk memakai penanda yang berhubungan dengan kitab kuning.

Periode ketiga adalah periode kontribusi santri dalam masa kemerdekaan. Masa ini disimbolkan dengan bambu runcing, garuda, dan merah putih.

Periode ke- empat adalah periode santri era milenial. Tema inilah yang menjadi tema usungan Pondok Pesantren Al Luqmaniyyah, yang mana panitia membebaskan para peserta untuk menentukan simbol yang akan digunakan.  Dalam hal ini, Al Luqmaniyyah, khususnya santri perwakilan komplek putri yang berjumlah sebanyak 25 orang, mengusung beberapa simbol, diantaranya seorang maskot berupa seorang putri bernuansa biru-biru. Selain itu juga terdapat santri yang berkostum ala teknologi era ini berupa kamera, tayo, roket, dan tv. Ada pula santri yang memakai kostum gaun untuk menggambarkan bahwa santri masa kini juga paham soal fashion dan trend busana. Sedangkan untuk menggambarkan kesalafan santri yang tetap dijaga sebagai tradisi, terdapat beberapa santri yang berkostum layaknya santri biasa dengan memakai sarung dan membawa kitab kuning.

Grebeg Santri tahun ini merupakan Grebeg Santri pertama yang diikuti oleh pondok pesantren Al Luqmaniyyah khususnya komplek putri. Tahun sebelumnya, Al Luqmaniyyah tidak mengikuti acara ini karena adanya kesimpangsiuran informasi dari panitia. Meskipun baru pertama kalinya bergabung, namun antusiasme para santri Al Luqmaniyyah sangat tinggi terbukti dari dibuatnya kostum-kostum yang beragam.

“Diadakannya acara ini di sepanjang malioboro yang notabene merupakan salah satu pusat keramaian jogja, merupakan sebuah ide yang brilian karena dapat menunjukkan eksistensi santri tersendiri. Selain itu juga menunjukkan bahwa kompetensi santri tidak sekedar mampu mengaji, namun juga lihai berkreasi.” Begitulah komentar Genduk Setyaningsih, salah satu koordinator peserta kirab Al Luqmaniyyah, ketika ditanya soal acara Kirab Grebeg Santri ini.

Antusiasme santri Al Luqmaniyyah dalam mengikuti kirab ini membuahkan hasil yang manis. Al Luqmaniyyah menjadi juara satu dalam kategori santri milenial yang akan kembali mengikuti kirab selanjutnya di Krapyak.

Tinggalkan Balasan