Rasa Nasionalisme Santri Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah

552

Jiwa nasionalisme ditunjukkan santri putra Pondok Pesantren Al Luqmaniyyah. Meski dalam keterbatasan, mereka tetap melakukan upacara bendera untuk memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-70, Senin (17/8). Upacara dilaksanakan di halaman kamar lantai 3 kompleks asrama putra. Meski mengenakan sarung dan berpakaian sederhana, mereka sangat khusuk mengikuti jalannya upacara dari awal hingga selesai.

Ali Mafruhin (23), ketua panitia menyebutkan bahwa kegiatan peringatan Kemerdekaan RI ke-70 ini dilakukan secara spontan oleh sekelompok santri yang menamai dirinya sebagai Asosiasi Santri Peduli Kemerdekaan (ASPK). Dari obrolan ringan, ASPK kemudian menyelenggarakan upacara bendera dan berbagai lomba untuk memeriahkan peringatan Kemerekaan RI ke-70 di pesantren tersebut. Persiapan hanya dilakukan dalam beberapa hari saja.

“Ini kali pertama peringatan Kemerdekaan RI ke-70 dilaksanakan di Pesantren Al Luqmaniyyah. Acara ini sebagai salah satu bentuk rasa nasionalisme para santri terhadap Indonesia,” kata Ali.

Ali menyebutkan bahwa para santri yang mayoritas mahasiswa di berbagai Perguruan Tinggi di Yogyakarta ini rindu dengan suasana upacara bendera karena semenjak menjadi mahasiswa sangat jarang mengikuti upacara. Terlebih lagi kampus-kampus juga tak menuntut mahasiswanya untuk mengikuti upacara bendera.

Dalam sambutannya sebagai pembina upacara, Ali mengatakan bahwa sebagai santri wajib mengisi kemerdekaan dengan berbagai kegiatan positif. Salah satu bentuk kegiatan positif yang dilakukan adalah menuntut ilmu dengan baik agar siap memberikan kontribusi positif di tengah-tengah masyarakat kelak.

Setelah dilakukan upacara, acara dilanjutkan dengan menyelenggarakan 5 lomba tanpa meninggalkan ciri khas pesantren. Lomba yang diadakan yaitu lomba makan kerupuk, lomba memukul air, lomba mengambil koin dalam pepaya, lomba meracik kopi, dan lomba joget tomat. Yang membedakan lomba di Pesantren Al Luqmaniyyah dengan lomba di luar, semua lomba dilaksanakan dengan syarat peserta harus memakai sarung.

Merespon rasa nasionalisme santri tersebut, Kepala Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah, M. Arif, mengharapkan agar rasa nasionalisme tersebut tertanam dalam jiwa setiap santri dan ke depan acara ini bisa diselenggarakan secara bersama dalam lingkup keluarga besar Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah. [Romd]

2 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan