Perlindungan Diri Dari Kerusakan Mental

38

Penulis : Ade Supriyadi, S.Th.I, S.Si, MA

Para ulama menjelaskan bahwa segala sesuatu yang telah disyari’atkan oleh Allah swt memiliki tujuan untuk mencegah kerusakan dan menciptakan kemaslahatan pada diri manusia atau makhluk yang lainnya. Banyak ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi Muhammad saw yang menjelaskan kewajiban manusia untuk mencegah terjadinya kerusakan di bumi ini. Kerusakan dalam bahasa arab disebut dengan “Al-fasaad”. Menurut Ibnu Mandzur kata al-fasaad diartikan sebagai lawan dari kata “Al-Ishlaah”, sedangkan menurut Al-Fairuz Abaadi “al-fasaad” diartikan dengan kondisi lingkungan ketika mengalami masa paceklik dan bisa juga diartikan dengan mengambil harta orang lain secara dzalim. Jika mengikuti definisi yang terakhir maka korupsi juga bisa dinamakan dengan “al-fasaad”. Kata fasad sudah menjadi bagian dari bahasa Indonesia. Dimana menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia fasad diartikan dengan kerusakan (moral dan sebagainya) atau kebinasaan.

Dalam pengertian umum fasad dapat diartikan dengan kerusakan. Kerusakan di sini memiliki dua macam bentuk, yaitu pertama, kerusakan alam, seperti rusaknya alam karena paceklik, banjir, kebakaran, gempa bumi dan sebagainya. Kedua, kerusakan non alam yang berhubungan dengan ketidak stabilan mental manusia, seperti kriminal, kerusakan akal sehat, kerusakan sistem aturan dan sebagainya. Kerusakan non alam ini dapat juga diartikan dengan suatu kondisi ketidak seimbangan atau ketidak sesuaian antara prilaku seseorang atau kelompok tertentu dengan aturan yang semestinya, baik aturan agama ataupun aturan negara.

Seseorang yang memiliki kekuasaan atau kekuatan jika tidak dibarengi dengan pengamalan terhadap ajaran agama dan kepatuhan terhadap aturan pemerintah maka dia akan cenderung memiliki sifat merusak. Kerusakan ini dapat berdampak buruk baik pada diri pelakunya ataupun pada orang lain yang berinteraksi dengan dirinya.

Kerusakan non alam ini dapat dikelompokkan menjadi enam bagian:

  1. Kerusakan akidah (al-fasaad al-‘aqaaidi), seperti syirik, ragu dengan keberadaan dan keesaan Allah, tidak mempercayai kepada hal-hal yang gaib, tidak mempercayai kebenaran hari kiamat atau kebangkitan dari kubur dan sebagainya.
  2. Kerusakan akal (al-fasaad al-‘aqli); seperti kehilangan akal sehat karena mabuk, memikirkan siasat jahat atau berbau pornografi dan sebagainya.
  3. Kerusakan moral atau akhlak (al-fasaad al-akhlaaqi); seperti berkata kasar, memfitnah orang lain, melawan orang tua, sombong, pamer dan sebagainya.
  4. Kerusakan sosial (al-fasaad al-ijtimaa’i); seperti tawuran, kenakalan remaja, pelanggaran terhadap norma yang berlaku di masyarakat dan sebagainya.
  5. Kerusakan ekonomi (al-fasaad al-iqtishaadi); seperti korupsi, riba, suap, menghamburkan harta, penimbunan barang, upah yang tak wajar dan sebagainya
  6. Kerusakan politik dan hukum (al-fasaad as-siyaasi wa al-Qaanuni); seperti pemimpin yang dzalim, pemaksaan kehendak politik terhadap seseorang, money politic, ketidak adilan di hadapan hukum, dan sebagainya.

Cara untuk menanggulangi terjadinya kerusakan non alam ada dua macam:

  1. Uaya pencegahan terhadap kerusakan.

Upaya ini dilakukan pada saat belum terjadi kerusakan nyata. Hal ini sangat penting untuk dilakukan sebagai upaya mencegah adanya kerusakan baik pada saat tanda-tanda kerusakan sudah nampak atau belum. Cara yang bisa dilakukan diantaranya adalah dengan memberikan pendidikan dan pemahaman yang benar baik terkait hukum agama, norma masyarakat ataupun hukum negara agar seseorang tidak berkeinginan melakukan kerusakan.

  1. Upaya penghilangan dampak kerusakan.

Upaya ini dilakukan pada saat telah terjadi kerusakan dan adanya dampak negatif dari kerusakan tersebut. Upaya ini harus segera dilakukan untuk menghilangkan dampak negatif tersebut agar tidak terjadi kerusakan yang lebih parah. Hal ini bisa dilakukan dengan memberikan terapi penyadaran atau pendampingan pasca kerusakan, rehabilitasi ataupun pemulihan kembali agar seseorang yang telah rusak dirinya secara mental atau akal dapat berubah menjadi normal kembali dan dapat hidup seperti layaknya manusia pada umumnya.

 

Tinggalkan Balasan