Serba Serbi Idul Adha 1439 H

8

Oleh: Ani Nafisa

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, untuk menyambut hari raya Iduladha kali ini di Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah Yogyakarta diadakan festival takbir. Festival yang mengusung tema “Tetap Berjuang Meski Akhirnya Berkorban” ini merupakan acara yang diadakan oleh panitia kurban atas dawuh dari pengasuh pondok. Adapun tujuan diadakannya festival ini untuk mewadahi para santri merayakan malam takbiran dan meramaikan suasana pondok dengan gema takbir.

Salah satu pembawa acara festival ini, Ari Hikma menuturkan bahwa tidak ada persiapan yang matang untuk merencanakan festival ini. Tercetusnya festival takbir ini merupakan tindak lanjut dari dawuh pengasuh agar membuat acara dimana santri dapat merayakan malam takbiran bersama didalam pondok. Meskipun terkesan dadakan, sepanjang acara berjalan lancar dan meriah dengan berbagai kreasi penampilan yang begitu apik. Festival yang diikuti oleh berbagai tingkatan mulai dari kelas i’daddy samapi alfiyyah 2 ini dimenangkan oleh kelas imrithy putra sebagai juara pertama, alfiyyah 1 putri sebagai juara 2 dan best performance yang diraih oleh kelas jurumiyyah putri.

Festival ini ditutup dengan makan bersama dalam rangka tasyakuran kurban. Tak selang beberapa lama setelah itu, seluruh santri dihimbau untuk bersiap-siap melaksanakan sholat lailatun nahr. Sholat yang paling utama dilaksanakan ketika sepertiga malam terakhir ini memiliki beberapa faedah. Salah satunya adalah akan diampuninya dosa-dosa yang dilakukan baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Tak hanya itu, pada hari sebelumnya, seluruh santri Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah bersama-sama melaksanakan sholat ‘arafah berjama’ah. Sholat yang berjumlah 4 rokaat dua salam ini waktu pelaksanaannya adalah antara waktu sholat dzuhur dan ashar.

Beberapa saat setelah matahari menerangi bumi, tepatnya pada tanggal 22 Agustus 2018 M atau 10 dzulhijjah 1439 H, seluruh santri Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah berbondong-bondong melaksanakan sholat Iduladha berjama’ah di mushola dan pelataran kelas. Suasana berlangsung khidmat dengan khutbah yang disampaikan oleh Ustadz Anas Fahrudin. Pagi menjelang siang para santri khususnya santri putra bersiap membagikian hewan kurban. Adapun hewan yang disembelih berupa satu ekor sapi dan lima ekor kambing.

Malam harinya santri putri ramai-ramai mengadakan bakaran sate di komplek belakang. Meskipun menggunakan alat pemanggang yang seadanya, hal itu tak mengurangi suasana hangat dan gembira yang tercipta diantara cengkrama.

 

Tinggalkan Balasan